Setting Printer Epson LX300 di Linux

Posted by: Maya Sari
My Happy Blogging, Updated at: 01.01
Setting Printer Epson LX300 di Linux >Anda hanya cukup menyesuaikan beberapa hal (misal letak menu) sesuai basis distro yang anda gunakan. Yang terpenting, diharapkan dengan tutorial singkat ini pembaca dapat memanfaatkan printer Epson LX300 di distro Linux yang digunakan. Awalnya penulis sedikit canggung juga membantu client yang enydorokan printer yang tergolong kuno ini. Tapi yang kuno belum tentu kalah dengan yang baru bukan? Jadi ada baiknya dicoba dulu. Dan ternyata prosesnya amat sangat mudah, siapapun bisa mencobanya.

Berikut Saya akan berbagi pengalaman dengan anda semua.


Pertama, tentu saja menginstalasi distro IGOS Nusantara 2009 ke dalam komputer client, berdasarkan permintaan client sendiri (saat tulisan ini dibuat sudah diganti ke versi 2010). Setelah proses instalasi selesai, barulah printer dipasangkan ke komputer, tentunya ini bukanlah printer USB. Kemudian pilih menu System → Administrasi → Mencetak. Setelah muncul kotak dialog, pilih New → Printer. Masukkan password root jika diminta. Kemudian untuk Select Device pilih LPT#1 karena seperti yang penulis sebutkan tadi, printer ini tipe paralel port.



Kemudian penulis coba sejauh mana kemampuan distro IGOS Nusantara 2009 (berdasarkan isi di databasenya dalam hal menyimpan driver untuk berbagai printer yang ada) untuk mengenali dan menjalankan perangkat printer tua ini dengan baik. Pilih opsi Select Printer From Database. Pilih Epson → Forward. Lalu pilih Dot Matrix → Pilih foomatic mid, lalu Forward dan Apply.




Setelah selesai, cobalah melakukan pengujian printing melalui Tes Print/Page. Jika sukses, maka hasil print akan dicetak di kertas. Jika gagal, coba ulangi lagi, bisa jadi malah ada kesalahan konyol dimana printer lupa dihidupkan mungkin hehe. Untuk memudahkan anda dalam mencetak, settinglah agar printer ini (Epson LX 300 dalam kasus ini) sebagai default printer.



Demikian artikel sederhana yang penulis ambil dari blog penulis sendiri berdasarkan apa yang penulis lakukan saat itu. Dapat disimpulkan bahwa karya anak bangsa tidak kalah dengan produk luar, dalam hal ini distro GNU/Linux IGOS Nusantara 2009, jika dibandingkan dengan distro lainnya. Dan perangkat tua pun belum tentu tidak berguna. Jika kita mau sedikit kreaktif, perangkat itu masih bsia digunakan, setidaknya, menghemat pengeluaran untuk pembelian perangkat keras. Penulis melakukan hal ini di luar jam mengajar di kampus sekaligus membantu rekan penulis yang membuka usaha toko buku dan rental komik di kota Denpasar.

Untuk aplikasi Point Of Sale, penulis menggunakan CMS Open Source Point Of Sale berbasis PHP dan dilepas dalam lisensi GNU GPL. Pada artikel lainnya akan penulis jelaskan secara lebih rinci mengenai salah satu aplikasi perkasiran dan inventori ini.

Referensi  : bytescode

0 komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.